S T I K E S
Harapan Bangsa
News & Info


Date20 March 2017 2:09 pm
ByAdmin is trator
Views23


Info Kesehatan

Biological Nurturing Position

Biological Nurturing Position. Oleh : Feti Kumala Dewi, SST.M.Kes *)


Berbagai kondisi dan gangguan kesehatan kehamilan sering menjadi penyebab ibu kesulitan dalam melahirkan, misalnya ibu dengan indikasi yang dipengaruhi oleh faktor usia, ketidaksesuaian kepala janin dan panggul atau CPD (Cepalo Pelvic Disproportion), persalinan sebelumnya dengan sectio caesarea, faktor hambatan jalan lahir, kelainan kontraksi rahim, plasenta previa, ketuban pecah dini serta rasa takut kesakitan. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan bayi tidak bisa keluar melalui proses normal alamiah sehingga harus dilakukan sectio caesarea (Saleha,2009).

Tindakan operasi sectio caesar menyebabkan nyeri dan mengakibatkan terjadinya perubahan kontinuitas jaringan karena adanya pembedahan. Nyeri tersebut akan menimbulkan berbagai masalah, salah satunya masalah laktasi. Menurut Julianti, 2014 bahwa 68 persen ibu postsectiocaesarea mengalami kesulitan dengan perawatan bayi, bergerak naik turun dari tempat tidur dan mengatur posisi yang nyaman selama menyusui akibat adanya nyeri.

Rasa nyeri tersebut akan menyebabkan pasien menunda pemberian ASI sejak awal pada bayinya, karena rasa tidak nyaman selama proses menyusui berlangsung atau peningkatan intensitas nyeri setelahoperasi (Aminah, 2013). Penanganan yang sering digunakan untuk menurunkan nyeri postsectiocaesarea berupa penanganan farmakologi, biasanya untuk menghilangkan nyeri digunakan analgesik yang terbagi menjadi dua golongan yaitu analgesik non narkotik dan analgesik narkotik. Pengendalian nyeri secara farmakologi efektif untuk nyeri sedang dan berat.

Namun demikian pemberian farmakologi tidak bertujuan untuk meningkatkan kemampuan klien sendiri untuk mengontrol nyerinya. Sehingga dibutuhkan kombinasi farmakologi untuk mengontrol nyeri dengan non farmakologi agar sensasi nyeri dapat berkurang serta masa pemulihan tidak memanjang. Metodenon farmakologi tersebut bukan merupakan pengganti untuk obat-obatan, tindakan tersebut diperlukan untuk mempersingkat episode nyeri yang berlangsung hanya beberapa detik atau menit (Yuliatun, 2008).

Banyak pasien sectiocaesarea yang mengeluh rasa nyeri di bekas jahitan sesar. Keluhan ini sebenarnya wajar karena tubuh mengalami luka dan poses penyembuhann yang tidak sempurna. Dampak nyeri yang perlu ditanyakan adalah hal-hal yang spesifik seperti pengaruhnya terhadap pola tidur, pola makan, energi, aktifitas keseharian. Nyeri merupakan suatu kondisi tidak nyaman yang disebabkan oleh stimulus tertentu.

Nyeri setelah pembedahan merupakan hal yang biasa terjadi pada banyak pasien yang pernah mengalami pembedahan. Yang perlu diwaspadai adalah jika nyeri itu disertai dengan komplikasi setelah pembedahan seperti luka jahitan yang tidak menutup, infeksi pada luka operasi dan gejala lain yang berhubungan dengan jenis pembedahan (Fitri, dkk, 2011).

Dari penelitian Colson tahun 2012 ditemukan, para ibu yang baru saja melahirkan akan lebih nyaman dan lebih bertahan lama menyusui saat mereka melakukan menyusui dalam posisi laid-back/semi-recliningataurebahan. Caranya ibu mengambil posisi rebahan sambil bersandar dengan sudut kemiringan antara  15-64 derajat kemudian bayi diletakkan di atas dada dan dibiarkan melekat dengan sendirinya. Pada cara ini, ibu tidak banyak mengintervensi posisi bayi, keduatangan ibu bebas, memegang bayi sekedar untuk menjaganya agar tidak terguling. Dalam Biological Nurturing  gerakan-gerakan refleks tersebut justru akan membantu bayi untuk bergerak mencapai payudara. Dalam posisi ini juga gravitasi yang biasanya menghambat bayi mencapai payudara karena berat kepalanya, malah akan membantu bayi untuk memasukkan areola jauh kedalam mulutnya.

Dalam posisi laid-back ini juga para ibu merasa lebih badan lebih rileks, ketegangan di kepala, leher, pundak dan punggung sangat jauh berbeda dibanding duduk tegak. Luka jahitan baik luka episiotomi ataupun luka operasi caesar dirasakan lebih minimal dibandingkan duduk tegak. Ibu juga tidak perlu terlalu berkonsentrasi untuk memikirkan posisi dan pelekatan yang benar. Hal ini sangat mendukung proses lepasnya hormon oksitosin karena ibu lebih rileks dan tenang. Efek kepada bayinya juga bisa mengurangi terjadinya muntah/gumoh (Colson, 2012).

*) Dosen Stikes Harapan Bangsa Purwokerto

    

    

    

    

 





© 2018 - STIKES Harapan Bangsa Purwokerto - Kerjasama dengan Radar Banyumas.
Hak Cipta Dilindungi Oleh Undang-Undang

Menu