SHB Kerjasama Dengan MGBK

By Hary Wicaksono - Tuesday, 05 September 2017 15:42 - 77 views - Comment
STIKes Harapan Bangsa (SHB) Purwokerto dipilih sebagai tempat pertemuan guru-guru BK SMA/MA/SMK se wilayah Kab Banyumas

STIKes Harapan Bangsa (SHB) Purwokerto dipilih sebagai tempat pertemuan guru-guru BK SMA/MA/SMK se wilayah…


www.shb.ac.id, radarbanyumas.co.id —  STIKes Harapan Bangsa (SHB) Purwokerto dipilih sebagai tempat pertemuan guru-guru BK SMA/MA/SMK se wilayah Kab Banyumas, Selasa (29/8) lalu. Kegiatan yang berlangsung di Gedung C.202 SHB ini dihadiri 55 guru Bimbingan Konseling (BK) SMA se eks-Karisidenan Banyumas.

Adapun tujuan dari kedatangan para guru BK tersebut adalah untuk menghadiri acara pembahasan program Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK). "Selain itu tujuan dari MGBK SMA yang bertempat di Gedung C.202 STIKes Harapan Bangsa Purwokerto adalah untuk lebih mempererat hubungan yang terjalin antara guru guru BK se karesidenan Banyumas dengan STIKes Harapan Bangsa Purwokerto," kata Sekretaris MGBK SMA/MA Banyumas, Kamto.

Selain itu ia menyambut baik kerjasama dan menyampaikan apresiasi atas prestasi STIKes Harapan Bangsa mengantarkan siswa siswanya untuk dididik secara profesional di bidang keperawatan, kebidanan dan farmasi untuk meraih masa depan sukses.

Menurutnya MGBK sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang tergabung dalam wadah kegiatan tersebut bisa saling bertukar informasi tentang pembelajaran. Dengan semakin banyaknya informasi pembelajaran yang diperoleh, maka akan semakin meningkat pula mutu proses pembelajaran. Pembelajaran meningkat, bila mutu guru meningkat.

Peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)/Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang tergabung dalam wadah kegiatan tersebut bisa saling bertukar informasi tentang pembelajaran. Dengan semakin banyaknya informasi pembelajaran yang diperoleh, maka akan semakin meningkat pula mutu proses pembelajaran. Pembelajaran meningkat, bila mutu guru meningkat.

Untuk menjaga tetap bermutunya MGBK, maka perlu evaluasi program-programnya. Analisis kekuatan dan kelemahan dengan teknikSWOT (strength, weakness, opportunity, threat) harus terus dilakukan agar tetap aktual dengan perkembangan ilmu pembelajaran.

"Apa saja yang menjadi bidang garapan MGBK dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran? Paling tidak ada empat bidang yang harus dilakukan," ungkap Kamto.

Yang pertama, menurutnya, dalam bidang kurikulum guru-guru dalam kegiatan MGMP/MGBK harus melakukan analisis Standar Kompetensi (SK)/Kompetensi Dasar (KD), silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selanjutnya, setelah analisis, SK/KD, silabus, dan RPP, tindakan selanjutnya adalah mengembangkan dan memperkaya dengan inovatif. Budaya dan karakter serta berbasis Informatian Technology (IT) dalam pembelajaran harus menjadi agenda penting. 

"Bahan ajar di internet sangat kaya. Oleh karenanya, guru harus terus mengaktualisasikan diri. Guru harus mewajibkan peserta didik memiliki email sebagai sarana pembelajaran. MGMP/MGBK sebagai motor penggerak perubahan mutu pendidikan harus menjalin kerjasama dengan MGBK sekolah lain," terangnya.

Yang kedua, lanjutnya, dalam bidang pembelajaran guru harus mengembangkan metode dan model pembelajaran. Mutu lulusan ditentukan mutu proses pembelajaran. Pembelajaran bermutu, lulusan bisa dipastikan bermutu pula. Guru harus profesional dan proporsional. Pelayanan pendidikan sesuai kebutuhan siswa. 

Apa yang ditulis harus dikerjakan, dan apa yang dikerjakan harus ditulis. RPP yang sudah ditulis harus dilaksanakan. Catat peristiwa, perilaku siswa dalam pembelajaran. Perbaiki yang perlu diperbaiki. "Orientasi pembelajaran harus mengarah kepada budaya mutu secara terus-menerus dan berkesinambungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan takwa," lanjutnya.

Ketiga, di bidang penilaian guru harus kompeten mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pelaporannya. Guru harus kompeten dalam kompetensi ini. Penilaian tak reliableakan berakibat tak akan menghasilkan lulusan yang bermutu. Mulai kisi-kisi, kaidah pembuatan naskah soal, tingkat kesulitan soal dan seterusnya harus dikuasai dengan baik. Penilaian kini berbasis kelas, dalam pengertian saat pembelajaran adalah saat menilai. "Saat mengajar harus bertanya secara terarah agar efektif. Perlu dikuasai teknik bertanya," tuturnya. Dan yang keempat, lanjutnya, di bidang kesiswaan dan prestasi.

Ia melanjutkan, program MGBK harus bisa menarik komitmen peningkatan mutu guru. Oleh karenanya dalam penyusunan program harus melibatkan guru. Program yang telah terumuskan harus disosialisasikan kepada seluruh anggota agar sesama guru memahaminya dan tergerak untuk melaksanakan program-program.

Bila hal tersebut bisa terlaksana secara sinergis dan konsisten dengan dilandasi komitmen peningkatan mutu proses pembelajaran, maka mutu lulusan tinggal menunai hasil. "Untuk itu, setiap anggota MGBK harus mewujudkan motto tiga P, yakni penampilan, pelayanan dan prestasi. Penampilannya elegan dan pelayanan prima, maka prestasi akan dapat diraih," pungkasnya. (ali). 



Next story


Tentang Penulis

Hary Wicaksono
Editor-in-Chief